Archive for the ‘CATATAN’ Category

Mengapa Harus APWG?

admin On January - 6 - 20103 COMMENTS

DISCLAMER ! : Baca sampe habis jangan spotong2 wkwkwkwk

————————————–
Mengapa Harus APWG?

Suka sama Pee Wee Gaskin?
TIDAK..!!
pertanyaan itu sempat dilontarkan tmn di sebuah cafe..
tentu saja siapa yg mau mengidolakan seorang pembunuh psyko bernama Donald Gaskins yg di juluki Pee Wee ini. Pembunuh berantai sadistic dalam sejarah kelam South Carolina USA.

Hehehe.. Pee Wee Gaskin yg powerpoppunk itu loh… yg fansnya disebut Party dorks.
dengan ciri khas Synthesizer dan lagu yg penuh semangat, romantis, santun, warna ceria dandanan brandal cool, pokoknya teenager bgt lah. lagu mereka sangat rajin di putar di radio², live di TV² selama kurun 2 tahun belakangan ini.

tumbuhnya Party Dorks berbanding sebanding dengan APWG..
Apapula APWG itu? ada yg bilang mereka adalah “the haters” pada band PWG dengan menambahkan atribut “anti” PWG pada kelompok mereka. hampir di semua daerah memmiliki PArty DOrks demikian juga dengan APWG.
Ibarat band yg tumbuh dengan kontroversi. tentu saja bukan deretan band full cemooh seperti kangen band yg berbendera melayu itu. kalau jujur mo bilang, PWG dari kualitas mata dan telinga jauh lebih baik dibandingkan dengan band2 mendayu2 kemayu melayu yg telah menggerogoti industri musik tanah hampir satu dekade ini. musik PWG lebih modern, terkini dan aktual (bah ..kayak liputan 6 wkwkwk).

mengapa mereka (PWG) dibenci?
pada majalah HAI edisi tahun lalu pernah memuat masalah ini. namun ada beberapa alasan baik yg masuk akal maupun yg di luar akal sehat(!) yg sering kita dengar..
Kata anak APWG bahwa PWG itu band maho, warna warni wurna sok cadas yg imud2 lah, sombong (karena sempat dilansir bahwa anak PWG bersama RocketRockers (Bandung) memang jarang berbaur dengan “komunitas”), banyak makan korban anak2 SMA yg gak tahu apa2 soal musik lah, juragan pensi lah, bahkan ada yg bilang mereka (PWG) itu band plagiat.

lihat saja expresi APWG saat PWG tampil live di TV ..silakan hitung jari tengah yg keluar di video ini ====> http://www.youtube.com/watch?v=kcLblVv1S8o

semenjak emo mulai redup di jajaran indie tanah air, semnjak sansan pamid dari Killing me inside, dan semenjak itu PWG bersinar dan semenjak itupula metamorfosis “keGAULan” berganti. gw jadi teringat sewaktu The Offspring dapat Grammy dan GreenDay masuk Major dengan Dookie, saat Nirvana membunuh Guns N Roses and Progresive Heavy Metals, Saat Kompilasi Metalik Klinik I di rilis, Saat LimpBizkit dan Blink 182 menghajar BackstreetBoys, Saat Gemilangnya Ska dengan munculnya Tipe-X, Saat UFO manggung di Gorontalo dengan BrutalPop Albumnya, saat Superman Is Dead muncul di MTV dengan tembang White Townnya, Saat Peacepot juara di GGRC… menggebrak dengan nuansa baru, berjuang sendirian dan mencapai puncak, mengubah kiblat dan standarisasi bagus atau tidaknya dalam bermusik. menunjukkan inilah mereka, berani melawan arus.

Read the rest of this entry »

TINY FEST REVIEW

admin On September - 27 - 20091 COMMENT

TINY FEST REVIEW

By: Bayou
Kata pertama yang gw ucapkan…trima kasih buat semua teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk bersedia datang di secret Gigs ini…buat teman-teman yang sudah mencari lokasi Venue yang mungkin masih kurang familiar di telinga para teman-teman semuanya, dan juga mungkin konsep gigs yang agak sedikit berbeda dari gigs-gigs yang lain!!

TINY FEST dimulai dari sebuah ide coba-coba yang tadinya cuman sebuah rencana yang terkonsep dikepala, menjadi sebuah ide event yang agak berbeda dari kebanyakan!! Secret gigs mungkin gw bisa bilang soal konsep event ini..berlokasi di sebuah rumah teman kami Spiky Hall..Ijep A.K.A Jefri yang juga mungkin orang yang mempunyai peranan penting dalam event ini, dengan persiapan kurang dari 6 hari sebelum event dengan dana yang kurang, tanpa sponsor, tanpa dana buat publikasi, tapi mempunyai semangat indie dan solidaritas dari teman-teman semuanya (UNDERGROUNDTHALO) akhirnya event ini bisa terlaksana.

Internet satu media yang pertama mungkin kita harus ucapkan trima kasih..Facebook, Gorontaloindie.com, dan myspace…adalah bagian pertama yang tanpa kita sadari menjadi jiwa semangat indie kami, sebagai media promo event, band, Clothing, dari setiap event yang kami buat..Photoshop, Corel, menjadi media kami meluangkan sedikit ide kreatifitas kami yang ada dikepala..dan menjadi sangat penting buat kami!!

Dimulai pukul 16.00 tepat event ini dibuka oleh satu band yang agak sedikit berbeda…Frontman Crozz Maker…gw gak tau ini band ego atau solo sang vocalis..Hmmm..atau cuman iseng doank dari band ini..oiya sekedar informasi band ini baru terbentuk ketika band ini akan perform diatas latar yang juga sebagai band penganti satu band yang ga sempat perform (MEDAL OF HOROR), once again gw angkat 20 jari buat band ini…membawakan 2 lagu ciptaan mereka sendiri yang sangat indie rock banget kalo gw bilang…dan anehnya lagi lagunya baru tercipta ketika mereka diatas panggung…Hmmmm…salut..

salut!!

16.30 next…2 orang anak muda tidak tau malu yang sangat experimental sudah siap-siap di atas latar..sebenarnya ini sebuah band side project dari 2 band, si Iwan (Stencil Pamper), dan Amet (My2nd Mom)..sangat bla bla blast, entershikari, kalo gw bilang…dengan gabungan musik agak sedikit chiptune, Looping Effect, experimental, dan digabungkan dengan teriakan dari sang vokalis (Experimental Happy Hardcore) membuat band ini menjadi satu band yang genrenya berbeda dari band-band yang ada disini (Gorontalo)..Good!!

16.45 Hmmm…The Pluck gw ga tau harus kasih koment apa soal band gw sendiri…oiya The Pluck cuman mau berterima kasih aja buat teman-teman semua yang sudah mau Ber sing A Long dan menghafal lagu-lagu kita dari lagu pertama sampe lagu terakhir, dan juga teman-teman semuanya yang udah mau ber dance floor dan ber featuring bersama kami..cheers dude..Sore yang indah!!

17.15 Stencil Pamper With melodic Punknya membawa kita tringat ketika menonton film-film High School Bule, sangat The Ataris Banget, Mxpx, New Found Glory…gw salut buat band ini…band yang prospek diisi oleh anak-anak muda kreatif, dan juga sempat ikut kompilasi melodic Punk hingga ke Jakarta, salut-salut, tapi sayang mereka tampil Minus sang Vokalis!!

17.30 It’s Time To Metal…From Hell To Heaven..dari nama bandnya mungkin bisa ditebak kalo ini band kayak apa?? Headbanggers tak terhindarkan ketika band ini perform, stage divin kecil juga terjadi disitu, band yang mempunyai prospek bagus dengan scream vokalis cewe like Walls Of Jericho, Step Forward!!..angkat Jempol buat band Ini..oiya ini menjadi band terakhir di sore itu sebelum Break Magrib.

18.30 tepat sudah bersiap-siap Super Tramp,tapi sayang gw melewatkan perfomance dari band ini karena ga sempat berada di sekitar Venue, tapi udah kenal banyak dari orang-orang dibalik band ini, dengan tipikal ciri khas sang Vokalis si Niezha Sangat Paramore banget..terlihat sangat Catchy dan sedkit berwarna!!

19.00 Lokasi Venue sudah mulai padat, dan membuat kita heran kalo acara Tiny Fest bisa seheboh ini, di depan area Musik terlihat anak-anak Skateboarding sedang bermain papan seluncurnya, dan terlihat beberapa kelompok atau gerombolan geng cewe bergaya ala JunkFood, Sporty, Or Bla..Bla… sedang berkerumun dengan gengnya masing-masing..Hmmm..This is a Real Party..

19.30 Punk Rock With Attitude…gw cuman bilang kalo ini adalah band Iteneps, Pogo dancing tak terhindarkan, dan membuat gw tak kuasa untuk bergabung dilantai dansa..sekedar gosip sang Vokalis atau pemilik band ini mempunyai Gitar baru…Hmmm….No Comment!!

20.00 saatnya untuk Hardcore Kids..Polahi satu lagi band Hardcore Old school perform..dengan membawa lagu mereka sendiri We Are The True membuat Headbanggers tak terhindarkan, oiya terlihat beberapa orang-orang penting di Undergroundthalo sedang asyik ber headbanggers!!..hahahaha..Lanjutkan!!

20.20 semuanya teriak….My 2n Mom sudah bersiap2 diatas Latar…Screamo Metal ala Bring Me The Horizon membuat suasana pada malam itu terasa semakin panas…terlihat beberapa anak-anak Punk, Scream or Metal Head berbaur dilantai dansa Ketika Band ini Perform..teriakanpun tak terhindarkan..salut..salut buat solidaritasnya!!

20.45.The Putu’s gw ga tau harus bilang apa soal band Ini,,,pendingin suasana ketika semua band lain membawakan lagu-lagu keras, dengan penuh teriakan, dan emosi, band ini akhirnya bisa mengambil hati Crowd yang datang malam itu terhanyut dalam Petikan Distorsi yang cukup Harmony…Garage Rock, Indie Rock, Grunge, Modern Rock, Yeah…gw bisa mendefiniskan dari band ini.. oiya terlihat di kamera salah satu Vokalis band Melodic Punk yang udah perform tadi sore sangat gila-gilaan, pol-polan dan terhanyut dilantai dansa ketika band ini perform…mungkin dia menjadi salah satu Fans fanatik dari band ini!!..Hmmm…But He’s Not Gay!!
21.00 Video Game sedikit ada masalah ketika band ini Perform, Mic Vocalis satunya kurang terdengar ketika band ini diatas latar…tapi itu semua tergantikan dengan aksi panggung mereka yang cukup atraktif dan cukup menghibur..dilantai dansapun terlihat banyak anak muda yang bermoshing dan ber Body Touch…Keep Spirit!!

21.15 The Watawatanga band Trio ini kembali lagi….orang mengenal band ini sebagai Trio Punk Rock, Like The Living End, Green Day, Etc, tapi ga tau kalo buat personilnya masing-masing…bagus buat band ini, sudah lama juga gw ga sempat lihat perform dari band ini…tapi sayang mereka ga sempat membawakan List Lagu Album Mereka terdahulu…Hmmm..tertangkap kamera ada beberapa geng cewe sangat histeris ketika band ini perform…ga tau mereka menyoraki sang Vokalis yang sangat Unik…atau Sorakan Buat Pacar Mereka yang ada di Band Ini…Hmmm…No Comment..Not My Privasi!!

21.30 band edan dan nyeleneh yang tidak mengutamakan skill seperti Teenage Death Star, Seek Sick Six,….kata orang sih gitu..Jolly Walrus Criminal Club..sebuah band Proyekan gila dari sang Vokalis Ijep yang mengusung genre Kyoto Hardcore, dengan pengunaan bahasa jepang…dengan kostum yang berbeda dan aneh membuat band ini menjadi sebuah band yang menjadi buah bibir di malam itu, sempat terjadi insiden kecil dilantai dansa ketika band ini perform…buat JWCC ini strategi kita buat mengenalkan bahwa membuat sebuah band ga pelu harus punya sebuah skill dan style yang bagus…dan ini terbukti dari band ini dan terbukti ketika orang-orang mau bersing a long ketika band ini perform dari first show band ini… ini adalah langkah pertama
da
ri JWCC untuk mengenalkan atau memberi Referensi kalo membuat sebuah band tidak perlu harus mencari yang performa terbaik…Hmmm..damn…shi
t..Puah!!

21.45 Closing ada 3 Band yang belum sempat perform..Not Perfect Story, 4 wd Vs Juragan, Applogize No Worry, dan 3 band ini menjadi band yang gw Tunggu aksinya..tapi sayang Event ini harus di tutup karena ada satu alasan dan lain hal…But That’s Ok..oiya panitia juga pengen menyampaikan minta maafnya kepada tiga band ini..karena belum sempat perform…next event kita pasti bakal bertemu lagi!!

Shit…akhir kata mewakili panitia Undergroundthalo say trima kasih buat semua teman-teman kami yang udah jauh-jauh meluangkan waktunya untuk bisa melihat dan mensupport acara ini..buat teman-teman Facebook kami yang mensisihkan waktunya untuk membaca Flyer yang dikirim lewat Facebook, maupun Gorontaloindie.com, dan juga udah mau menerima Undagan event kami…thanx juga buat band-band yang sudah menyumbang dana dalam acara ini..tampa kalian kami tidak bisa apa2…oiya buat teman-teman semuanya yang sudah menjaga keamanan, dan mungkin menjadi First Underground Gigs Yang bebas dari Alkohol,,,Yeah!! …Coming Soon Video Dokumentasi Tiny Fest…demikianlah Review Hari ini

Thanx Dude…Gorontaloindie Youth Crew!!

Underground dan DIY
By. Bayu Djafar

Orang-orang yang ‘baru’ hidup dan mengenal dunia underground, yang masih hijau dan meraba-raba, yang masih lugu dan sok tahu, cenderung membanggakan secara berlebihan jenis musik dan lifestyle yang dia hidup di dalamnya. Mereka yang mengaku dirinya punkers, berpakaian layaknya ‘anak punk’; Rambut mohawk, tindik telinga, hidung, tatoo, sepatu boot Dr.Martin, jaket dan celana jeans. Mereka yang mengaku dirinya hardcore berpakaian lebih sporty, celana army selutut, syal di kepala menutupi alis mata, dan asesoris lainnya. Begitupun mereka yang mengaku dirinya budak Skinhead, Metal, Grindcore, Hip-Hop, dan Ska. Banyak diantara mereka yang terlalu mengutamakan penampilan fisik dibandingkan mengedepankan attitude D.I.Y sesungguhnya.

“D.I.Y” yang merupakan singkatan dari “Do-It-Yourself” merupakan ‘etos-punk’ (punk ethic) yang mengedepankan ‘kemandirian’ dan ‘ketidak-ketergantungan’ pada sesuatu yang di luar dirinya. Etos punk DIY ini merupakan ideologi underground yang seharusnya melawan nilai dan budaya konsumerisme. Melawan kebiasaan belanja dan meminta uang pada orang lain, baik pada teman, pacar, orang tua, kakak-adik demi untuk kepentingan dirinya sendiri.

DIY-ers cenderung melakukan segala sesuatu oleh dirinya sendiri (mandiri/independent). Dia tidak tergantung pada orang lain dan cenderung mengesampingkan kebiasaan ‘membeli’ dan mengutamakan ‘memperbaiki’ apa yang dia sudah punya sebelumnya Jika sepatunya rusak, dia tidak membelinya langsung, tapi berusaha untuk memperbaikinya oleh tangannya sendiri. Begitupun ketika sepedanya rusak, dia tidak membawanya langsung ke bengkel, tapi berusaha untuk belajar memperbaikinya sendiri. Attitude seperti ini pada akhirnya memaksimalkan potensi diri sendiri dan meminimalisir ketergantungan pada dan kebiasaan merepotkan orang lain. In a way, menjadi MANDIRI, PRODUKTIF dan PROGRESIF!

Walaupun sebenarnya tidak mungkin kita sebagai makhluk sosial bisa mandiri secara penuh – Manusia selalu ‘membutuhkan’ dan ‘dibutuhkan’. Kita selalu membutuhkan sesuatu, tapi kita terkadang ingin ‘dibutuhkan’ juga oleh orang lain. Bayangkan jika kita semua berjalan sendiri-sendiri dan tidak membutuhkan satu sama lain. Bukankah kita akan menjadi orang yang individualis dan ‘AUTIS’?

Sekarang sangat sedikit komunitas underground yang memegang prinsip DIY. Lifestyle underground kini berubah menjadi komoditas yang mudah diperjual belikan. Tren style fashion punk, emo, metal, hardcore menjadi jalur pintas penjualan produk yang berasal dari industri besi, metal, fyber, kain, wax, dsb. . Banyak anak muda yang mulai meminati musik underground beramai-ramai dan berbondong-bondong membeli sepatu vans, macbeth, dan clothing yang bergengsi – yang mirip dengan yang pernah dipakai pemain band favorit mereka.

Semangat kemandirian DIY kini berubah menjadi semangat ‘ingin membeli dan menikmati dengan cepat’ – konsumeristik. Semangat ini yang kemudian merubah jati diri masyarakat menjadi lebih destruktif, eksploitatif, dan manipulatif tanpa mengetahui apa itu pergerakan UNDERGROUND sesunguhnya

Tidak sedikit teman-teman di sekitar pergaulan kita yang berani tanpa beban dan malu meminta uang pada orang tuanya yang kurang mampu untuk membeli sepatu Vans dan Macbeth yang dia inginkan. Ada juga diantara mereka yang meminjam uang pada temannya tapi selalu lupa untuk membayar utangnya kembali demi membeli t-shirt dan sweater idamannya. Lebih parahnya lagi, ia mencuri uang kas band atau organisasinya demi ongkos pacaran dan belanja dia pribadi. This is the the real fact that exist amongst us.

disini kita lupa bahwa Underground bukanlah sebuah Genre musik atau sesuatu fashion yang bisa dilihat mentahnya saja, tapi disini Underground adalah sebuah ideologi yang mempunyai semangat D.I.Y yang terdiri dari orang2 yang mandiri dan juga orang2 yang kreatif!!

Artikel Ini gw tujukan buat orang2 yang sok idealis di kota gw tercinta, dan orang2 yang sok tau soal Underground, yang cuman bisa kasih komentar tapi tidak bisa mempraktekan apa itu filosifi Underground sebenarnya!!

Cheers..Drumer From T.P!!

JANGAN PERNAH MENJADI INDIE YANG BODOH
By : Bayu Djafar (The Pluck)
Seperti diketahui, Indie memang berasal dari kata Independent. Namun harus dibedakan antara independen sebagai:
(1) status artis/band atau minor label yang tidak dikuasai/dikendalikan major label
(2) independen dalam konteks indie sebagai subkultur dan genre musik

Untuk pengertian (1), sejarahnya dimulai sejak awal abad 20 dengan kemunculan minor label seperti Vocalion atau Black Patti yang kala itu berupaya mengikis dominasi major label semacam Victor, Edison, dsb. Walaupun independensi pada pola dan jaman itu tidak menjalin akar dengan pengertian (2), mereka bertendensi serupa sebagai antitesis mainstream dengan merilis musik kaum minoritas seperti blues, bluegrass, dsb. Tapi saat itu yang terjadi sekadar rivalitas antara kapital kecil melawan kapital besar dan pergerakannya tidak bersifat integral. Lalu di era 50-an mulai berkembang wacana independen untuk memerdekakan kreativitas dari intervensi kepentingan industri. Kendati demikian, kondisi yang tercipta tidak menghasilkan karakter signifikan. Bipolarisasi terhadap arus utama belum terwujud. Mereka memang berproduksi secara minor tapi iramanya masih mengacu ke pola major label juga. Walaupun bermotif kebebasan berekspresi, mereka hanya independen secara kapital dari major label namun orientasi musiknya tetap setipe major label.

Kecenderungan awam dalam menyikapi istilah indie adalah menyamaratakan semua yang independen sebagai “indie”. Dengan demikian itu hanya bertumpu ke unsur kata (independen) saja sebagai kemerdekaan secara harafiah dan tanpa batas. Ada pula yang mempertanyakan “indie” dalam kapasitasnya sebagai kebebasan mutlak. Padahal independensi dalam wacana (2) sangat berbeda dengan (1). Artinya istilah indie sesungguhnya masih merujuk ke spesifikasi tertentu. Indie akan mampu dipahami secara proporsional bila ditelusuri ke konteks historis atau wacana terjadinya pembentukan istilah itu. Namun jarang ada media yang mau menggali lebih dalam. Sehingga “indie” cenderung dikotakkan sebagai musik laris manis yang cocok bagi selera awam. Sedangkan musik indie sesungguhnya yang underrated malah diabaikan. Hal semacam itulah yang kerap menimbulkan miskonsepsi publik bahwa “indie” semata-mata pola kerja dan kemurnian idealisme. Bagaimana bila sebuah band beridealisme mainstream tapi mereka berproduksi secara swadaya? Apakah itu termasuk indie? Tentu tidak. Karena independen secara minor label atau self-released tidak menjamin artis/label itu berkarakter indie. Karena seseorang yang berjiwa mainstream pun bisa saja menghasilkan karya berkarakter mainstream tapi dikemas secara Do-It-Yourself dengan dalih kebebasan ekspresi atau budget minim.

Kasusnya seperti gaya rambut suku indian “Mohawk” yang sudah ada sebelum punk. Namun orang cenderung menggeneralisir semua gaya rambut mohawk sebagai representasi punk. Padahal tidak semua orang yang berambut mohawk menganut ideologi punk. Demikian pula halnya pada pemahaman minor label atau self-released yang disetarakan indie, padahal keduanya bukan parameter mutlak bagi status indie. Oleh karena itu, perlu ada pembelajaran bagi masyarakat agar mereka tidak latah terhadap istilah “indie”. Artinya publik patut memahami bahwa segala sesuatu yang independen belum tentu indie dan indie belum tentu independen (secara label). Asal mula kata independent menjadi indie bermula dari tabiat anak-anak muda Inggris yang suka memotong kata agar mempermudah pelafalan informal seperti; distribution menjadi distro, british menjadi brit, dsb. Di balik pemendekan kata independen itu kemudian terkandung sebuah definisi kontekstual indie yang menjadi basis pergerakan subkultural. Sehingga sejak masa itu tidak sembarang makna independen secara umum bisa diasosiasikan dengan indie. Namun hingga kini pun orang awam masih sering salah paham dengan menyamakan makna indie dalam wacana (2) dengan independen dalam wacana (1).

Namun seperti uraian di atas, dalam perkembangannya istilah indie mengalami perluasan makna akibat eksploitasi media massa yang menjadikannya rancu. Secara general, definisi indie di Indonesia cenderung dipublikasikan sebagai pola kerja mandiri semata. Padahal esensi indie bukan sekadar kemandiriannya saja, namun lebih kepada Roots-Character-Attitude (RCA) yang bertumpu pada resistensi terhadap mainstream. Sebagai contoh, The Smiths dan New Order dirilis oleh Warner Music namun reputasinya masih diakui sebagai band indie karena RCA mereka adalah indie. Bahkan secara internasional indie diakui sebagai genre. Itu artinya, ada sebuah konsensus global yang memahami indie dalam spesifikasi musik tertentu.Lalu bagaimana menentukan band itu indie atau bukan? Disinilah arti penting parameter RCA yang telah disebutkan tadi. Guna mendistribusikan rekaman indie, para scenester (aktivis musik) indie membangun jalur distribusi di luar sistem mainstream yang kemudian dikenal sebagai distro. Dengan demikian, indiepop sebenarnya menerapkan unsur-unsur budaya resistensi punk walaupun para pelakunya tidak berdandan ala punk. Keistimewaan indie terletak pada jaringan kerjanya. Indie tanpa networking akan menjadi benteng tanpa prajurit. Dalam relasinya indie cenderung lebih mengedepankan unsur humanis. Dukungan mutualisme semacam ini sebenarnya adalah warisan dari 3 dekade silam ketika indie label yang lebih besar memberi dukungan kepada indie label yang lebih kecil untuk berkembang lebih pesat tanpa mengawatirkan rivalitas pasar. Indie bergerak kepada orientasi pendengar yang segmentatif. Kalaupun akhirnya mendapat respon luas, itu dianggap senagai bonus saja. Faktor penentunya adalah sikap artis/band indie tersebut ketika mulai dikenal secara luas. Mereka harus lebih bijak dalam menjaga pakem agaR karakternya tidak terseret menjadi pasaran atau kacangan.

Bisa dibilang indie yang ideal adalah indie yang ekslusif. Parameter tersebut adalah RCA yang mengacu pada subkultur indiepop itu sendiri. Singkatnya indie adalah etos cutting edge, avant garde atau budaya kreatif yang menjadi alternatif dari pola-pola musik pada umumnya.

Seiring perkembangan corak musik, indiepop masa kini secara musikal memang tidak lagi sarat dengan punk. Namun etos punk masih dan akan selalu dianut olah para musisi indiepop di belahan dunia manapun. Dengan musik yang sangat catchy dan selling, sebenarnya banyak band indiepop yang berpeluang besar untuk menjadi artis jutaan kopi dengan menawarkan demo ke major label. Namun mereka tidak melakukan itu karena orientasi mereka bukan sekadar popularitas dan kemewahan, namun lebih kepada kepuasan personal dan idealisme dalam berkarya. Bahkan ada yang menolak tawaran manggung hanya karena skala pentas dan panggungnya terlalu besar.

[Kiki Nafai .. Fighting Fingers]

Apakah emo itu??
by : Kiki Nafai

Akhir-akhir ini banyak terdengar istilah ‘emo.’ Musik emo, gaya pakaian emo, potongan rambut emo, bahkan gaya hidup emo.Tetapi……, apakah sebenarnya ‘emo’ itu? Apakah gaya berpakaian yang saat ini lagi panas-panas di kalangan anak muda itu?

Lebih Dekat Dengan Emo

Hampir serupa dengan punk dan rock, emo sekarang dikenal sebagai suatu keadaan emosional. Istilah emo sendiri dianggap sebagai sebuah budaya, kata itu adalah singkatan dari kata ‘emotional’ (emosional). Emo sendiri ternyata bukan hanya sebuah sikap, namun juga fashion yang terpengaruh dari musik emo (emocore).

menurut saya pribadi Emo adalah Aliran Musik……

Emocore adalah perpaduan dari hardcore dan musik punk yang sangat populer di Washington DC pada akhir era 80-an. Budaya emo akhirnya terus berkembang antara dekade 90-an hingga 2000-an hingga mencapai popularitasnya saat ini.

Pertengahan 80-an, istilah emo menggambarkan sub genre hardcore punk yang berakar dari musik Washington DC. Pada perkembangannya, istilah emocore yang merupakan kependekan dari emotional hardcore, akhirnya digunakan untuk menggambarkan penampilan band-band di Washington DC yang sangat emosional misalnya Rites of Spring, Embrace, atau Moss Icon.

Di pertengahan 90-an, istilah emo mulai merujuk pada genre indie yang mendapatkan pengaruh dari Fugazi yang dianggap sebagai emo first wave.

Band-band seperti Sunny Day Real Estate dan Texas is the Reason menunjukkan gaya emo indie rock yang lebih menunjukkan melodi mereka daripada kekacauannya.

Yang saat ini sedang populer adalah band-band seperti Fall Out Boy, My Chemical Romance, Panic at the Disco, dan Paramore yang juga disebut sebagai band emo walaupun gaya musik mereka memang cukup berbeda dengan band-band emo sebelumnya.

emo

Emo adalah Gaya Berpakaian

Namun emo sepertinya telah berkembang jauh melampaui dunia musik saja. Emo sekarang malah lebih sering dihubungkan dengan fashion daripada musik.

Istilah emo ini kadang kala langsung dirujuk pada jeans ketat yang dipakai cowok dan cewek juga, poni rambut yang panjang dan disisir ke satu sisi wajah dan menutupi salah satu atau malah kedua mata. Potongan rambutnya lurus, kaos ketat (biasanya berlengan pendek) bertuliskan nama-nama band emo, ikat pinggang berkepala besar, sepatu kanvas atau sepatu hitam yang sering kali nampak tua dan lusuh, dilengkapi dengan kaca mata berbingkai hitam tebal.Gaya berpakaian ini disebut dengan istilah fad.

emo itu penyampaian kata hati yang terluka,sakit,hancur,meski

kadang2 kita harus menelannya mentah2 emo pada dasarnya bukan sebuah music genre..
semua bisa jadi emo,sekaligus semua belum tentu bisa jadi emo..
kalo kita liat dari band sich ,band-band emo terbagi dalam beberapa tingkat,yaitu:
(spt nya dikit2 aja yah…males ngetiknya,kalo kamu emo pasti tau kok)
emo pure : spt :dashboard convensional
emo rock : spt : taking back sunday
emo punk : spt : aiden
emo core : spt : alesana(screamo)

jaman dahulu kala emo tuh sama dengan post-grunge kayak deftones (album lama)..
sekarang aja banyak yang post-hardore (sebenarnya perbedaannya tidaklah terlalu mendetail,cuma gimana cara band tersebut menyampaikan emosi nya tentang hati yang terluka it secar mendalam
)
ciri vocal band emo adalah pengungkapan feel lagunya kena banget..

anak2 emo hampir semua di indonesia sering menyalah artikan bahwa emo hanya sekadar style nya doang..

emo itu cinta,tapi cinta yang pahit,kelam,sakit,menderita,terluka dijiwa…

secara pribadi terus terang saya tidak mau mengaku kalau saya adalah emo..

tapi jika ditilik dari masa lalu,kejadian2 yang menimpa saya…
semua hal dalam kehidupan saya….
semua mulai membenci saya sebelum saya sadar kalau saya adalah seorang…….. anj**G..!!!!

Refleksi 10 tahun Undergrounntalo, suatu Artikel yang pernah gw baca di website Gorontaloindie.com yang dulunya masih gorontaloindie.co.cc dan belum rapung dan masih serba biasa2 saja buat seukuran webzine lokal indonesia, tapi sangat bagus buat kita yang tinggal didaerah yang punya fasilitas minim dan punya dana pas2an.

oke gw lupa, nama gw Bayu gw lahir 23 tahun yang lalu..peranan gw di Underground di gorontalo kayakya ga ada yang spesial, dan ga ada yang istimewa, mngkin dari ga ada ke istimewaan ini gw mau menjadi seorang yang istimewa di Scene lokal Undergroundthalo.Player di band Melodic Gorontalo, Frontman di Gorontalo Foundation, Mencoba menjadi contributor di www.gorontaloindie.com, mencoba membantu teman2 yang ingin dibantu adalah side project keseharian gw…Damn kayaknya ga penting dibahaz…

Underroundthalo mungkin sebuah plesetan yang keren buat kalangan anak2 Underground, gw ingat beberapa bulan yang lalu, gw punya teman di myspace yang mengomentari status myspace band gw yang disitu ditulis Band from Undergroundthalo yang mereka pikir itu nama sebuah plesetan biasa..Hmmm…saking penasarannya dia mengomentari di halamn myspace profile band gw, UNDERGROUNTHALO?? mang itu nama yang di plesetkan?? beberapa hari kemudian gw bales bro itu nama mewakili Underground dan juga mewakili sebuah nama daerah kita yang belum banyak orang tau nama daerah kita itu dimana??..beberapa lama kemudian dia ngebalas mang daerahnya dimana?? dan gw bales lagi, kita dari gorontalo bro.. waw setelah dari situ dia mengira bahwa daerah sekecil kita, dan ga semetropolitan daerah laen punya musik Underground/Indie yang cukup ga bisa dipandang sebelah mata…dan setelah beberap lama kemudian ahirnya dia bilang, kalian memunyai nama yang cukup keren buat kalangan underground, dengan tanpa harus memakai Underground daerahnya sendiri yang terkesan lebih individual, tapi cukup dengan mewaikili nama Underground dan juga mewakili nama belakang daerah kita…Hmmm…

Underground yang sekarang istilahnya lebih ke Indie secara general yang dulunya lebih dikenal dengan Underground tapi sekarang lebih banyak band memakai istilah Indie, karna pengunaan kata lebih sederhana dan lebih enak didengar, dengan mewakili kata bebas, bebas dalam bermusik, bebas untuk melakukan keratifitas tanpa ada pengekangan.dan bebas dalam hal yang positif.

scene musik Undergroundthalo, disini gw liat banyak band2 indie yang bagus, dan kreatif, tapi masih malu untuk mempromosikan kekreatiftasnya itu, dengan mempunyai lagu yang bagus, tapi masih kurang pede untuk meperdengarkan ke orang2 banyak…setelah melihat begitu bnyaknya tawaran membuat sebuah event di gorontalo, gw bisa lihat ternyata digorontalo mempunyai segudang band2 kreatif tetapi masih kurang ter ekspos didaerahnya sendiri, dengan modal friendship,dan kebersamaan, mungkin disini kita bisa bangun sebuah scene yang besar, dan di penuhi orang2 kreatif, sampe ke generasi kita berikut.

ITS TIME TO BREAK ITS TIME TO CHANGE COMPILATION, OLD SONG REPACKAGE EP, FOR YOU PERSIGO COMPILATION, INDIES TOTAL WAR, FROM US TO ALL (Prepare), dan Event2 musik Undergound laen yang rutin diadain setiap bulannya adalah hasil kerja keras dari anak2 indie Undergroundthalo yang mungkin ga bisa di pandang sebelah mata oleh orang2 kebanyakan. dengan modal yang pas2an, dengan budget event yang kurang, bisa kita tangani dengan baik, modal pertemanan dan kebersamaan, dan saling bantu adalah kunci kita bisa lebih strungle, dan lebih tetap survive di scene ini, mungkin disini kita mempunyai filosofi yang brbeda dari kebnyakan orang atau genre2 laen yang keluar dari jalur kita atau lebih dikenal sebagai Counter Culture (Budaya Perlawanan).

setelah hampir 12 tahun pergerakan indie Undergoudthalo gw mellihat banyak angka sangat signifikan naek dari beberapa regenersi undergroudthalo, yang dulunya masih ngebawain lagu orang, dan sekarang banyak band yang lebih pede ngebawain lagu sendiri, bahkan sampe bisa memproduksi Mini Album Sendiri. look a Movement….

gw mewakili all Undergroudthalo menulis artikel ini, buat semua orang yang telah mendedikasikan keseharianya dengan membuat suatu yang beda, baik itu di bandnya sendiri atau di setiap pergerakan indie. (indie dalam bentuk luas). dan ingin membuka pemikiran kepada orang banyak bahwa musik Underground/Indie itu bukanlah musik yang menyesatkan, atau musik yang dibilang sebagai musik ekstreem. sebaliknya musik Underground/Indie adalah sebuah genre dimana dipenuhi oleh orang2 yang kreatif, dan punya pemikiran maju.

Go Undergroundthalo…..

Design Downloaded from Free Wordpress Themes | Free Website Templates